Jumat, 11 Desember 2009


Anda mungkin pernah melihat foto pohon yang sedang ruku’ ini. Diberitakan di hutan dekat Sydney ada sebuh pohon yang menyerupai orang yang sedang ruku’, dan ajaibnya posisi ruku’ pohon tersebut menghadap kiblat. Mmm, ketika melihat pertama kali, saya kagum juga, apalagi dengan komentar-komentar di website yang mengiringi tampilan foto mengenai fenomena ini. Tapi, beberapa sesaat kemudian saya berfikir, apakah cukup cerdas bagi seorang muslim, ketika mendapati hal-hal semacam ini kemudian dengan serta merta meyakini bahwa ini adalah sebagai bukti kebesaran Allah.
Ada banyak sekali foto-foto dari seluruh dunia yang diklaim sebagai bukti kebenaran Islam. Beberapa contoh misalnya, pohon bertuliskan syahadat di Jerman, tulisan Allah atau Muhammad di awan, di semangka, di sarang lebah, di ikan dll. Atau yang baru-baru ini di ledakan pipa gas di Lapindo

Dari sudut pandang rasional, paling tidak ini bisa dilihat dari dua sisi. Adanya “pola” dalam fenomena di alam menurut saya adalah hal yang lumrah. Misalnya tulisan Allah di awan, laut atau api Lapindo tadi. Bagaimana mungkin satu jepretan foto yang kebetulan memiliki pola yang mirip tulisan Allah kemudian dengan serta merta diklaim sebagai “bukti kebesaran”. Sekiranya api lapindo tadi berkobar dalam 6 jam saja misalnya, dan andaikan setiap 5 detik diambil foto-nya, ada berapa kemungkinan pola api itu bisa kita dapatkan dan dari foto-foto itu ada berapa kemudian gambar yang dikait-kaitkan dengan pola tulisan Allah, misalnya (bayangkan dengan kemungkinan “pola” yang nampak di awan atau air laut). Belum lagi berapa kemungkinan jumlah angle yang dapat dipakai untuk memotret. Dan bagaimana jika di antara gambar jepretan itu ternyata ada gambar yang mirip dengan tulisan atau bentuk yang dikaitkan dengan kepercayaan Hindu, atau dewa-dewanya suku terasing di Afrika, atau kepercayaan lain misalnya, apakah itu juga tidak dipakai mereka untuk mengklaim kebenaran versi mereka? (just think about it)
Sisi kedua bukan dari obyek yang diperdebatkan ini, tapi sisi kesahihan informasi itu sendiri. Keberadaan teknologi memungkinkan banyak informasi tersebar luas dengan keautentikan yang dipertanyakan ). Siapa yang dapat menjamin keberadaan pohon ruku’ ini ada di wilayah mana pastinya (kalo perlu cari kordinatnya sehinggal bisa dilacak pake Google Earth sehingga kita yakin bahwa pohon ini memang ada), atau apakah penemuan kerangka raksasa di Arab Saudi yang kemudian diasosiasikan sebagai Kaum ‘Ad sebagai benar-benar penemuan atau semata-mata hoax? Lebih parah lagi, berita-berita yang tidak jelas ini kadang diblow-up juga di media sehingga ketika informasi ini ditelan oleh banyak orang sehingga orang semakin mudah tersihir

Saya meyakini ada banyak hal yang merupakan bukti kebesaran Allah yang kadang mungkin tidak masuk logika berfikir kita(saya terkadang merasa mengalami itu). Beberapa berasal dari teks Quran dan berasal dari masal lampau (misalnya Kelahiran Isa tanpa ayah dari Maryam yang suci) atau mungkin juga terjadi pada masa-masa sekarang ini. Ada banyak hal yang diluar nalar manusia dan mungkin saja di antara gambar-gambar itu memang benar-benar sebagai bukti kebesaran Allah (hanya Allah yang Maha Tahu). Tapi dengan serta-merta mengklaim hal-hal yang “lumrah” atau tidak jelas keautentikannya hanya akan mempermalukan umat Islam di publik dunia. Saya lebih senang kalau kita dapat menggali hal-hal merangsang daya nalar, misalnya wawasan bagaimana menafsiran istilah “At-Thariq” (Surat Ath-Thariq) yang ditafsirkan sebagai komet atau hal lain yang mencerminkan kecerdasan berfikir dan bukan semata karena doktrin sehingga dapat benar-benar menjadi bukti nyata dan tak terbantahkan akan adanya kebesaran Allah. Saya juga baru percaya dan hirau dengan berita-berita autentik semisal mumi Firaun yang tenggelam di Laut Merah yang memang faktanya sekarang ini ada dan itu secara jelas dinyatakan dalam Al Quran (QS Yunus: 10).
Saya khawatirnya ketika kita hanya tersepona (maksudnya terpesona, hehehe) hal-hal yang belum jelas kebenarannya dan keautentikannya ini menjadi umat yang tidak akan pernah maju dan malah menjadi bawan tertawaan dan cemoohan (coba lihat salah satunya di , namun saya mengingatkan untuk siap-siap extra bersabar dan banyak beristighfar sebelum membukan dan membacanya).

0 komentar:

Poskan Komentar